Penyakit yang timbul dari Turisme

Meningitis, Penyakit Para Pelancong
Email this article to friend

Wabah meningitis tersebar di sebagian besar wilayah dunia, mulai dari Amerika, Asia hingga Afrika. Semakin terbukanya mobilitas penduduk dunia juga membuka ikut melancongnya jasad renik penyebab meningitis. Penyakit ini termasuk salah satu yang mendapat perhatian dalam bidang traveling medicine.

INFEKSI pada selaput meningen atau yang biasa disebut meningitis masih menjadi masalah di berbagai belahan dunia. Insiden di masing-masing negara memang berbeda dengan prevalensi tertinggi di Afrika Sub-Sahara.

Dijelaskan Dr Iris Rengganis, SpPD-KAI dari Divisi Alergi Imunologi Klinik, Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI dan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, di Afrika dikenal istilah “African Meningitis Belt” karena daerah endemi tersebut menyerupai sabuk atau saling berkesinambungan di sepanjang wilayah Afrika Tengah dari selatan ke utara (horisontal). Meningitis belt di Afrika merupakan gambaran dari tingginya angka kejadian meningitis di dunia. Angka kejadian tinggi penyakit meningokokus terjadi di  sub-Sahara.  Wilayah ini terbentang dari barat ke timur, Senegal hingga Ethiopia dengan estimasi jumlah populasi 300,000,000 jiwa. Di negara-negara yang termasuk wilayah meningitis belt, terjadi sekitar 800,000 kasus selama 20 tahun dalam periode 1970-1992. Dalam epidemi, tingkat serangan terjadi 10 hingga >1000 setiap 100,000 jiwa.

Lapeyssonnie adalah orang pertama yang menetapkan meningitis belt dan cakupan wilayahnya antara 4° dan 16 ° garis lintang utara pada tahun 1963 dengan angka kejadian yang tinggi dan epidemi berulang, yang bertepatan dengan 300-1100-mm curah hujan tahunan rata-rata.

Selama musim kemarau antara bulan Desember dan Juni, terjadi peningkatan angka kejadian penyakit meningokokus. Hal ini diperkirakan karena adanya hubungan antara debu yang terbawa angin dapat menginfeksi saluran pernapasan atas. Kemudian terjadi iritasi pada faring yang meningkatkan resiko terjadinya invasi mikroorganisme.

Transmisi Neisseria meningitidis tersebar pada lingkungan yang penuh sesak pada tingkat keluarga. Pada populasi besar karena adanya perpindahan penduduk pada suatu wilayah dan  kegiatan yang padat seperti di pasar tradisional.  N.  meningitidis A, C, dan W-135 saat ini menjadi serogroup utama penyebab penyakit meningokokus di Afrika.

Esitimasi dari insiden penyakit meningokous di Asia secara keseluruhan masih kurang. Sampai saat ini, Asia masih menjadi perhatian karena epidemi penyakit meningokokus yang terjadi pada 30 tahun terakhir (China 1979 dan 1980, Vietnam 1977, Mongolia 1973–1974 dan 1994–1995, Arab Saudi 1987, Yaman 1988). Tiga besar dari subgroup III serogroup A merupakan pandemi pada pertengahan abad ke-20 di Asia. Pandemi pertama terjadi di China pada tahun 1960-an dan menyebar ke Rusia, negara-negara Skandinavia, dan Brazil. Pandemi kedua terjadi di China dan Nepal pada awal tahun 1980-an dan menyebar selama musim Haji di Mekkah.

Dari Arab Saudi penyakit menyebar ke Afrika dan negara-negara lain (Amerika Serikat, Inggris, Perancis, dan Israel). Pandemi ke tiga terjadi kembali di China pada tahun 1993, menyebabkan terjadinya epidemi luas di Mongolia dan Rusia, dan pada akhirnya sampai Afrika. Walaupun penyebab utama penyakit meningokokus adalah serogroup A, namun serogroup B dan C juga mempunyai andil sebagai penyebab utama.

Meningitis bakteria dan septikemia disebabkan oleh tiga  jenis bakteri yang berbeda. Haemophilus influenzae (Hib), Streptococcus pneumoniae, dan Neisseria meningitidis. Hib merupakan bakteri gram negatif non-motil yang dapat beradaptasi dengan cepat di dalam nasofaring manusia. Pada bayi dan balita (anak usia di bawah 5 tahun), Hib dapat menjadi bakteremia dan meningitis bakteria akut.

Streptococcus pneumoniae yang merupakan bakteri gram positif, hidup di saluran napas bagian atas. Bakteri ini dapat menyebabkan pneumonia, sinusitis, otitis media atau meningitis yang sering kali didapatkan bermainfestasi terhadap infeksi ini. S. pneumoniae merupakan penyebab utama penyakit infeksi bakteri pada bayi dan balita.

N. meningitidis merupakan bakteri gram negatif yang bersifat toksik akibat dari produksi endotoksin lipopolisakaridanya disertai dengan tingkat virulensi yang tinggi akibat kapsul antifagositnya. Ketiga bakteri tersebut merupakan mikroorganisme penyebab meningitis. Namun, N. meningitidis lah yang menjadi penyebab terjadinya penyakit meningokokus.

N. meningitidis dapat menginfeksi manusia, menyebar melalui kontak dari penderita kepada  orang sehat dan orang tersebut dapat terinfeksi ataupun menjadi karier. N. meningitidis berbentuk diplokokus dan hanya berkolonisasi pada nasofaring manusia. Pembawa atau karier bakteri tersebut seringkali ditemukan. Berdasarkan hasil penelitian, prevalensi karier didapatkan sebanyak 0.6% hingga 34.5% pada seluruh popoulasi. Transmisi terjadi melalui udara yang terhirup, melalui sekret yang terkontaminasi pada traktus respiratorius maupun secara kontak langsung. Masa inkubasinya 2 -10 hari dan bisa berakibat fatal dalam waktu 24-48 jam sejak saat timbulnya gejala.

Penularan terjadi secara kontak langsung, dapat pula melalui karier dan memiliki masa inkubasi 2-10 hari (pada umunya 2-3 hari). Manusia merupakan satu-satunya pejamu penyakit ini. Pada hasil penelitian, didapatkan karier nasofaring sebanyak 10% dapat menyebabkan penularan penyakit ini. Selebihnya 60-80% terjadi melalui kontak dekat, popoulasi padat, lingkungan militer, perkemahan, sekolah, dan musim haji. Faktor yang mempermudah terjadinya penyakit ini adalah keberadaan kuman melalui infeksi virus, daya tahan tubuh yang rendah dan kebiasaan merokok.

Meningitis meningokokus yang merupakan peradangan selaput otak dan selaput sumsum tulang belakang yang bersifat akut  dapat digolongkan dalam dua  kategori utama yaitu septik (biasanya bakteri) dan aseptik (disebabkan virus, bahan kimiawi dan penyakit autoimun).

Perjalanan dan tingkat keparahan dari penyakit ini termasuk cepat dan seringkali terapi tidak dilakukan sejak dini sehingga pencegahan dan penangannya sudah terlambat. Penyakit invasif ini memiliki patogenesis, diawali terpaparnya host dengan strain patogen dari N. meningitidis. Bakteri ini akan berkolonisasi pada mukosa naso-orofaringeal host, dan melakukan invasi pada epitel mukosa. Terjadi proses proliferasi dan terbawa dalam aliran darah yang terfasilitasi dengan adanya faktor virulensi tinggi pada bakteri ini dan faktor dari host yakni predisposisi secara genetik yang dapat menimbulkan penyakit meningokokus. Kapsul polisakarida pada bakteri N. meningitidis merupakan faktor penyebab tingginya virulensi bakteri tersebut. Pada saat bakteri ini berada dalam aliran darah, kapsul inilah yang berperan sebagai pelindung dari adanya serangan ikatan komplemen yang berfungsi sebagai bakteriolisis dan fagositosis.

Antibodi yang beredar dalam sirkulasi memiliki peranan penting sebagai proteksi terhadap penyakit meningokokus. Penyakit meningokokus memiliki masa inkubasi yang singkat, yaitu 3-4 hari dengan rata-rata 2-10 hari. Perlindungan secara klinis oleh adanya stimulasi yang menghasilkan respon sel B memori tidak dapat terjadi selama pembentukan imunitas memori masih berlangsung, paling cepat selama 5 hari. Imunitas bawaan dan tingginya kadar antibodi dalam sirkulasi darah merupakan imunitas utama yang dapat mencegah terjadinya perkembangan meningitis bakteri. Perlindungan dari antibodi secara terus-menerus merupakan hal yang sangat penting pada golongan yang memilki antibodi yang kurang memadai, seperti pada bayi dan anak-anak, di mana imunitas yang belum terbentuk secara sempurna tidak dapat melindungi dari serangan invasi bakteri seperti N. meningitidis.

Tatalaksana dari penyakit meningokokus masih menjadi masalah dikarenakan perkembangan dari gejala yang timbul dan tidak dapat diprediksi. Komplikasi yang terjadi akibat penyakit meningokous bersifat fatal. Terapi untuk dugaan penyakit meningokokus adalah terapi antimikroba empiris yang harus segera diberikan, pada setiap organisme sesuai dengan usia dan geografi. JIka mikroorganisme tidak diketahui, antibiotika yang diberikan harus mampu melawan mikroorganisme yang paling patogen. Selain terapi antibiotik, pedoman penatalaksanaan merekomendasikan terapi suportif yang tepat, seperti penatalaksanaan jalan napas, pemberian oksigen, dan sirkulasi  termasuk pemberian cairan IV. Terapi suportif tidak seharusnya menghambat pemberian antibiotik ataupun membawa penderita ke rumah sakit. Dalam penggunaannya, deksametason masih kontroversial.

Vaksinasi Meningitis merupakan vaksinasi yang dilakukan pada calon jamaah haji. Vaksin ini diinjeksikan pada area deltoid SK dengan dosis tunggal 0,5 ml. Waktu pemberiannya paling lambat 10-14 hari sebelum tiba di Arab Saudi. Dalam prosesnya, antibodi akan terbentuk kurang lebih 2 minggu setelah penyuntikan dan akan mendapatkan kekebalan selama 3 tahun.

Parepare, Maret 2012

Zakia Nur Al Usna.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s